Indonesiandaily.com – Teknologi molekuler dan kecerdasan buatan (AI) mulai membuka babak baru dalam strategi pengobatan kanker. Teknologi tersebut memungkinkan peneliti merancang kandidat obat lebih presisi sekaligus mengembangkan terapi yang mampu menyasar sel kanker secara lebih selektif.
Terobosan tersebut menjadi sorotan utama dalam The 5th Health Science International Conference (HSIC) & 17th ISCC Annual Meeting yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan dan Farmasi (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Forum internasional ini berlangsung di Aula GKB 5 Kampus UMM, 28-29 Agustus 2026. Kegiatan tersebut diselenggarakan berkolaborasi dengan Indonesian Society for Cancer Chemoprevention (ISCC).
Mengusung tema “Recent Advances in the Prevention, Treatment, and Supporting Cares for Cancer and Chronic Diseases”, konferensi mempertemukan akademisi dan peneliti untuk membahas perkembangan terbaru dalam pencegahan hingga terapi kanker dan penyakit kronis.
Salah satu pembicara utama adalah Prof. Hiroyuki Nakamura dari Institute of Science Tokyo, Jepang. Ia mengungkap potensi besar teknologi molekuler yang dipadukan dengan AI dalam mempercepat penemuan kandidat obat.
“Kecerdasan buatan dapat membantu kita mengeksplorasi hubungan antara struktur dan aktivitas senyawa untuk menemukan kandidat obat baru yang jauh lebih poten,” ujarnya.
Menurutnya, AI memungkinkan peneliti menganalisis hubungan antara struktur kimia suatu senyawa dengan aktivitas biologisnya. Pendekatan tersebut dapat membantu menemukan kandidat obat secara lebih cepat dan terarah.
BNCT Serang Kanker dari Dalam Sel
Prof. Nakamura juga memaparkan perkembangan Boron Neutron Capture Therapy (BNCT). Terapi ini dikembangkan sebagai pendekatan radiasi tingkat sel dengan target yang lebih selektif.
Dalam terapi tersebut, pasien terlebih dahulu diberikan senyawa pembawa Boron-10. Unsur tersebut diarahkan agar terakumulasi pada jaringan tumor.
Ketika Boron-10 ditembak neutron termal, terjadi reaksi nuklir pada skala seluler. Reaksi tersebut menghasilkan partikel alfa yang kemudian menghancurkan sel kanker dari dalam.
Teknologi tersebut terus dikembangkan untuk meningkatkan selektivitas penghantaran boron ke jaringan tumor. Tujuannya, sel kanker dapat dihancurkan dengan dampak seminimal mungkin terhadap jaringan sehat di sekitarnya.
Prof. Nakamura menyebut pendekatan tersebut telah menunjukkan potensi dalam menangani berbagai jenis tumor, termasuk tumor otak dan tumor di area leher.
Turunan Kurkumin Dikembangkan untuk Alzheimer
Inovasi teknologi molekuler yang dipaparkan Prof. Nakamura tidak hanya menyasar kanker. Pendekatan serupa juga digunakan dalam pengembangan terapi penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Ia bersama tim memanfaatkan analisis SAR Matrix untuk mengembangkan turunan kurkumin. Modifikasi molekuler tersebut menghasilkan senyawa dengan efektivitas hingga 100 kali lipat dibandingkan senyawa awal dalam konteks pengujian yang mereka lakukan.
Senyawa tersebut tidak hanya diarahkan untuk mencegah pembentukan amyloid-beta fibrils. Lebih jauh, kandidat tersebut diteliti karena kemampuannya menghancurkan fibril yang telah terbentuk.
Pengujian in vivo menggunakan model lalat buah (Drosophila) juga menunjukkan hasil menarik. Subjek yang mengalami gangguan fungsi motorik dilaporkan dapat mengalami pemulihan hingga kembali beraktivitas.
Pendekatan lain, yakni SAR Transfer, menunjukkan bahwa perubahan kecil pada struktur molekul dapat menghasilkan peningkatan aktivitas inhibitor secara signifikan.
Bahkan, penambahan atom klorin pada struktur tertentu dilaporkan mampu meningkatkan efektivitas inhibitor hingga 75 kali lipat tanpa harus memetakan keseluruhan struktur protein terlebih dahulu.
Bahan Alam Jadi Senjata Lawan Penyakit Kronis
Perspektif lain disampaikan Emmy Hainida Khairul Ikram, Ph.D., pakar dari Universiti Teknologi MARA Malaysia.
Ia mengangkat potensi bahan alam dan makanan fungsional dalam membantu mengendalikan stres oksidatif. Menurutnya, makanan fungsional memiliki peran lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi.
“Makanan fungsional bukan sekadar penyuplai nutrisi dasar harian, namun kaya akan senyawa bioaktif yang amat krusial dalam mengatur stres oksidatif dan meminimalisasi risiko penyakit kronis,” jelas Emmy.
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kesehatan masa depan membutuhkan pendekatan multidisiplin. Teknologi molekuler, AI, bahan alam, farmasi, hingga ilmu kesehatan perlu dipertemukan untuk menghasilkan solusi yang lebih presisi.
UMM Perkuat Jejaring Riset Internasional
HSIC ke-5 juga menjadi momentum bagi UMM untuk memperluas jejaring akademik dan penelitian. Konferensi tersebut melibatkan delapan perguruan tinggi lainnya sebagai co-host.
Kolaborasi itu memperkuat posisi UMM sebagai ruang temu akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Forum tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan riset bersama di bidang kanker dan penyakit kronis.
Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengapresiasi penyelenggaraan konferensi internasional tersebut.
Menurutnya, pengetahuan akan memiliki dampak lebih besar ketika dibagikan, diuji secara objektif, dan diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
“Kami berharap konferensi ini dapat memperkuat kolaborasi strategis antar-peneliti dan memberi kontribusi nyata bagi pencegahan hingga perawatan pasien kanker maupun penyakit kronis secara luas,” ujarnya.
Melalui HSIC dan ISCC Annual Meeting, UMM tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan ilmiah. Kampus tersebut juga mengambil bagian dalam membangun ekosistem riset yang mempertemukan inovasi molekuler, AI, terapi kanker, dan pemanfaatan bahan alam untuk menjawab tantangan kesehatan masa depan.
