Indonesiandaily.com – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) Malang resmi berganti nama. Kini, divisi akademis tersebut berubah menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (STeM).
Perubahan nama ini diresmikan sebagai respons terhadap perkembangan zaman yang kian pesat di era knowledge dan teknologi yang turut memengaruhi kultur budaya masyarakat.
Ketua Yayasan UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa dalam tiga tahun terakhir, pihaknya melihat perubahan cepat dari era knowledge dan teknologi yang mempengaruhi kultur budaya masyarakat.
“Sebagai ilmu dasar yang mendasari semua ilmu pengetahuan, kami harus menyiapkan diri,” ujar Prof. Sasmito, Rabu (20/05).
Proses pengajuan perubahan nama ini telah berlangsung selama tiga tahun. Menurutnya, berubah nama bukan berarti meninggalkan cita-cita lama, melainkan untuk terus melanjutkan upaya menghadapi perubahan zaman.
“Dulu dengan nama fakultas MIPA, ketika bicara Matematika dan IPA seperti bangunan tertutup. Termasuk Biologi, IPA, yang terkesan sendiri-sendiri,” jelasnya.
Namun, lanjut Prof. Sasmito, memasuki dunia komputasi dan teknologi digital, ternyata tidak ada batasnya. Untuk menjawab tantangan zaman itu, pihaknya mengubah nama fakultas tanpa meninggalkan identitas.
Sebelum disahkan menjadi Fakultas Sains dan Teknologi dan Matematika (STeM), jajaran dekanat telah membentuk tim yang mendasarkan perubahan tersebut tanpa meninggalkan matematika, biologi, kimia, dan fisika karena merupakan dasar dari semua ilmu.
“Namun kami akan mengarah ke masyarakat yang knowledge driven konteks, jadi masyarakat yang berdasarkan ilmu pengetahuan yang kontekstual, betul-betul menjadi ilmu yang terbuka,” tambahnya.
Semangat Baru Tanpa Tinggalkan Jati Diri
Dekan Fakultas STeM UB, Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D., menambahkan bahwa justru perubahan nama ini membuat divisi akademik MIPA semakin besar untuk mewadahi program studi (prodi) yang ada.
“Karena di situ ada bioinformatika, sains data, aktuaria, sehingga perlu diperluas lagi. Dengan nama STeM, paradigmanya memperluas kapasitas MIPA dan jati diri,” ungkapnya.
Prof. Sukir menjelaskan bahwa pihaknya mewadahi paradigma ilmu yang berkembang di FSTeM. Prodinya bisa semakin berkembang, peluang pengembangan semakin besar karena wadahnya lebih besar, meskipun tantangan juga sangat besar.
“Tanpa meninggalkan jati diri, kita bisa berkembang. Semangatnya, kita akan menjawab beberapa permasalahan di masyarakat, termasuk ketika ada beberapa teknologi terbaru yang berkembang tanpa ilmu dasar tidak akan bisa,” tegasnya.
Target Menjadi Pusat Gravitasi Sains di Indonesia
Fakultas ini ditargetkan menjadi pusat gravitasi perkembangan sains, teknologi, dan matematika di Indonesia. Perubahan nama fakultas MIPA menjadi STeM ini merupakan yang pertama di Indonesia.
“Kami memang pionir dalam wadah yang lebih luas dan berdampak ke masyarakat,” kata Prof. Sukir.
Potensi Prodi Baru
Ke depan, potensi pengembangan diyakini akan melahirkan prodi-prodi baru, seperti teknologi material, geosains, dan lainnya. Saat ini, jumlah prodi yang ada sebanyak 19, terdiri dari 10 jurusan S1, lima prodi S2, dan empat prodi S3.
Dengan wajah baru ini, Fakultas STeM UB diharapkan mampu menjadi motor penggerak ilmu pengetahuan yang adaptif, kontekstual, dan mampu bersaing di era global.
