Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) menggelar seminar Internasional Understanding Contemporary China. Pertemuan ilmiah ini mengupas berbagai keunggulan yang dimiliki negeri Tirai Bambu ini. Dengan tujuan untuk menginspirasi mahasiswa UM agar tergerak meniru kemajuan negara raksasa ini.
Menurut Rektor UM Prof Dr Hariyono MPd seminar ini hendaknya dapat dijadikan rujukan, terutama tentang konsistensi dalam perencanaan jangka panjang. Dimana hal tersebut menjadi kunci dominasi Tiongkok di panggung global.
“Kemajuan pesat Tiongkok tidak terjadi secara instan, namun melalui perencanaan pembangunan yang konsisten dan berkelanjutan,” ungkap Prof Hariyono, Kamis (02/03).
Rektor UM juga menegaskan, memahami Tiongkok tidak cukup hanya melihat sisi modernnya. Tetapi harus dari akar sejarah panjang yang membentuk karakter bangsa tersebut.
“Tiongkok bukan sekadar negara, tetapi peradaban besar dengan fondasi sejarah yang kuat,” tegasnya.
Pemahaman ini menjadi hasil penting seminar, terutama dalam membentuk cara pandang mahasiswa terhadap dinamika global.
Dahlan Iskan yang juga hadir sebagai narasumber menekankan bahwa Indonesia tidak perlu meniru Tiongkok secara mentah.
Namun, sejumlah prinsip dapat diadaptasi, terutama konsistensi, kebijakan, keberanian merancang strategi jangka panjang dan fokus pada sektor strategis seperti industri serta teknologi.
Seminar ini juga memberikan dampak langsung pada penguatan wawasan global mahasiswa UM.
Selain itu, kerja sama pendidikan Indonesia–Tiongkok turut diperkuat melalui program pertukaran mahasiswa, akses literatur dan budaya Tiongkok dan pengembangan jejaring akademik internasional.
Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Dr. Ye Su, menyoroti model pembangunan Tiongkok serta peluang kerja sama yang semakin terbuka bagi Indonesia, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Tiongkok tidak lepas dari model pembangunan yang disesuaikan dengan karakter nasional, mencakup sistem sosial, pendidikan, infrastruktur, hingga pengentasan kemiskinan. Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia.
“Tiongkok bersedia berbagi pengalaman pembangunan dan memberikan inspirasi bagi negara lain untuk menemukan jalannya sendiri menuju kemakmuran bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) sebagai simbol konkret kolaborasi strategis antar dua negara. Proyek ini dinilai mampu mempercepat konektivitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Proyek Whoosh dapat dilihat sebagai miniatur kerja sama Tiongkok–Indonesia dalam mendorong pembangunan dan konektivitas,” tambahnya.
Dalam konteks pendidikan, kerja sama antara UM dan institusi di Tiongkok terus diperkuat melalui program pertukaran mahasiswa dan kolaborasi budaya. Salah satunya adalah kerja sama dengan Guangxi Normal University yang melahirkan ruang baca Duxiu Shuyuan di Perpustakaan UM. Fasilitas ini membuka akses literasi global serta memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan Tiongkok.
Selain itu, peluang beasiswa melalui China Scholarship Council (CSC) turut menjadi daya tarik bagi mahasiswa Indonesia. Program ini memberikan akses pendidikan internasional sekaligus meningkatkan daya saing lulusan di pasar global.
