UB Salurkan Bantuan Penjernih Air Portabel, Pulihkan Bencana Sumatera

UB Salurkan Bantuan Penjernih Air Portabel, Pulihkan Bencana Sumatera

Indonesiandaily.com – Universitas Brawijaya (UB) memberangkatkan bantuan alat penjernih air portabel ke wilayah terdampak bencana di Sumatera Barat sebagai bentuk kontribusi institusi dalam pemulihan pascabencana.

Program ini merupakan kolaborasi lintas fakultas, yang diinisiasi oleh dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Muhammad Fakhri, S.Pi., M.P., Ph.D., dan dikembangkan secara teknis oleh dosen Fakultas Teknik (FT), Dr. Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM.

Pengiriman bantuan dilakukan pada Minggu (7/12/2025), bertepatan dengan rangkaian Dies Natalis UB, sebagai simbol keterlibatan aktif kampus dalam upaya kemanusiaan.

Sebanyak 10 unit alat penjernih air dan 10 unit genset diberangkatkan terlebih dahulu menuju Palembayan, Kabupaten Agam, salah satu wilayah yang membutuhkan dukungan akses air bersih.

Selanjutnya, UB merencanakan distribusi ke berbagai lokasi lain berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan di lapangan.

Inovasi alat penjernih air ini berangkat dari kebutuhan nyata saat terjadi bencana, ketika akses terhadap air bersih sering kali terputus.

Riyanto Hariwibowo, ST., MT., IPM. mengatakan ide pembuatan alat tersebut muncul dari kegiatan pengabdian UB yang fokus membantu korban bencana di Sumatera Barat.

“Saat situasi bencana, akses air bersih sering terputus, sehingga dibutuhkan alat yang praktis, mudah dipindahkan, dan mampu menghasilkan air layak pakai dengan cepat,” ujarnya.

Alat penjernih air yang dikembangkan tim FT ini menggunakan sistem filtrasi dan sterilisasi bertingkat. Dalam setiap unit, alat ini dilengkapi Multi Sand Filter FRP 1035, empat unit housing filter 10 inci berisi sedimen dan karbon aktif, serta sterilisator UV kapasitas 12 GPM.

Sistem ini juga ditunjang oleh pompa air, panel listrik, pressure gauge, serta rangka galvanis dengan pipa PVC. Juga dilengkapi dengan unit filtrasi dan sterilisasi bertingkat, mulai dari Multi Sand Filter untuk menyaring kekeruhan, housing filter berisi sedimen dan karbon aktif, hingga sterilisator UV untuk memastikan air bebas bakteri.

“Semua komponennya memang kami rancang agar mudah dipindahkan dan digunakan langsung di lapangan,” jelas Riyanto.

Proses perancangan alat dilakukan dengan menitikberatkan pada kebutuhan darurat di lokasi bencana. Mulai dari desain awal, pemilihan komponen, proses fabrikasi, hingga pengujian fungsi, seluruh tahapan disusun agar alat siap digunakan begitu tiba di lokasi terdampak.

“Dalam proses pengembangannya kami mulai dari kebutuhan lapangan. Yaitu menyediakan alat yang dapat menghasilkan air mendekati kualitas air minum namun tetap compact,” ujarnya.

Setelah perancangan, dilakukan pemilihan komponen, fabrikasi, instalasi pipa dan kabel. Serta pengujian fungsi agar alat benar-benar siap digunakan dalam kondisi darurat.

Selain dikirim ke lokasi terdampak, alat tersebut juga diperkenalkan secara resmi dalam momen Dies Natalis UB.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, tim riset yang dipimpin Dr. Riyanto dan Dr. Fakhri akan berangkat ke Sumatera Barat pada Selasa (9/12/2025) untuk melakukan survei langsung ke lapangan.

Survei ini meliputi pemetaan kondisi sumber air, penentuan titik penempatan alat, serta evaluasi kebutuhan tambahan di wilayah lain. Hasil survei akan menjadi dasar distribusi lanjutan yang direncanakan UB dalam minggu-minggu berikutnya.

Dengan pemberangkatan alat penjernih air dan dukungan teknis tersebut, UB menegaskan komitmennya dalam mengoptimalkan peran perguruan tinggi bagi kemanusiaan.

Kolaborasi lintas fakultas ini menunjukkan bahwa riset dan inovasi kampus dapat diimplementasikan secara langsung untuk membantu masyarakat. Khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat dan pemulihan bencana.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *