Indonesiandaily.com – Prodi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang kembali menyuguhkan estetika visual melalui gelaran Nata Karya 6.0. Pameran karya arsitektur mahasiswa ini diselenggarakan di Taman Demo, Kampus 1 ITN Malang, pada Selasa (13/01/2026).
Bukan sekadar pameran, Nata Karya merupakan agenda rutin setiap semester yang berfungsi sebagai ajang apresiasi sekaligus penilaian publik terhadap karya-karya mahasiswa arsitektur. Puluhan karya mulai dari maket, poster desain, hingga instalasi bangunan dengan bentuk-bentuk unik terpajang rapi. Karya-karya ini menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam merespons ruang dan bentuk.
Representasi Tugas dan Kebutuhan Riil
Amar Rizqi Afdholy, ST., MT., dosen Arsitektur S-1 ITN Malang menjelaskan, pameran ini merupakan hasil akhir dari beberapa tugas mata kuliah inti. Diantaranya Estetika Bentuk, Perancangan Arsitektur (PA) 2, PA 4, dan Bangunan Portabel.
“Meskipun berasal dari beberapa mata kuliah saja, karya yang dihasilkan sangat banyak, dan beragam,” ungkap Amar.
Mahasiswa angkatan 2025, misalnya berfokus pada tugas perubahan bentuk Trimatra dan Dwimatra. Ada tugas individu mingguan berskala kecil, hingga tugas kelompok berupa instalasi Trimatra skala besar.
Lebih lanjut, Amar memaparkan progres di tingkat semester. Semester 3 (PA 2) mahasiswa ditantang membuat rumah tinggal dua lantai dengan fungsi ganda sebagai rumah profesi. Mereka diharuskan mencari klien untuk menyesuaikan desain dengan kebutuhan pengguna.
“Ini mengajarkan mereka untuk menekan ego arsitek, dan lebih mendengarkan keinginan klien sebagai gambaran dunia kerja nyata,” tambahnya.
Pada semester 5 (PA 4), di bawah bimbingan dosen Hamka, ST., MT., dan Ar. Moh. Syahru Romadhon Sholeh, ST., M.Ars., IAI., mahasiswa merancang bangunan multifungsi (mixed-use) berlantai banyak seperti hotel dan mal yang disajikan dalam bentuk poster.
Amar menilai kreativitas mahasiswa di setiap angkatan menunjukkan grafik yang meningkat. Dimana setiap angkatan memiliki karakter sendiri-sendiri. Mereka mampu menangkap arahan dosen dengan sangat baik. Kreativitas yang dihadirkan saat ini jauh lebih eksploratif dibanding (Nata Karya) sebelumnya.
Filosofi Akulturasi Budaya dan Jam Pasir
Di antara puluhan instalasi, karya kelompok mahasiswa semester 1 menarik perhatian karena kedalaman filosofinya. Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Gapura Rupa Tanpa Suara”. Kelompok mereka terdiri dari Mazza, Riko, Rio, Candra, Syahrul, Tama, dan Rayhan yang mengusung konsep akulturasi budaya Indonesia dalam balutan modernitas.
“Karya kami bernama “Gapura Rupa Tanpa Suara” karena ia menjadi saksi bisu pembelahan zaman dari tradisional ke era metropolitan/siber,” ujar Mazza.
Desain gapura ini menggabungkan elemen visual dari berbagai daerah, seperti Rumah Tongkonan (Sulawesi), motif Batik Kawung (Jawa), Penjor (Bali), Tombak (Papua), hingga atap Rumah Gadang (Sumatra). Untuk memberikan sentuhan futuristik, mereka menggunakan material kepingan DVD bekas untuk menciptakan refleksi cahaya yang dinamis.
Karya lainnya “Jam Waktu”. Tim yang beranggotakan Azeva, Bintang, Artha, Lalu, Rifki, dan Roy ini menghadirkan instalasi berbentuk jam pasir. Azeva menjelaskan, karya mereka menekankan pada konsep waktu yang berharga.
“Bagian atas menggunakan unsur kupu-kupu yang melambangkan keindahan. Pesannya adalah keindahan akan datang pada waktunya,” katanya.
Sementara di bagian tengah, terdapat elemen berlian yang menyala sebagai titik pusat perubahan yang menjadi sudut pandang manusia.
Struktur ini dibangun menggunakan rangka besi sebagai penopang utama, diperkuat dengan triplek, karton, dan PVC foam board yang tahan air. Serta benang pancing transparan untuk memberikan efek melayang pada elemen jam pasir.
