Indonesiandaily.com – Mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) memberikan pendampingan intensif kepada siswa kelas XII. Terutama dalam menghadapi tes kemampuan akademik (TKA) Matematika. Uniknya, pendampingan ini dengan menerapkan teori konstruktivisme.
Mahasiswa Magister UNISMA tersebut, Eka Sri Irawati yang memberikan pendampingan kepada siswa kelas XII dalam menghadapi Matematika. Pengabdian masyarakatnya ia fokuskan pada pendampingan intensif persiapan TKA Matematika dengan penerapan teori Konstruktivisme.
“Pendampingan ini mengajak siswa untuk mengubah cara pandang terhadap Matematika. Dari sekadar menghafal rumus menjadi mengkonstruksi pemahaman,” ungkap Eka.
Mahasiswa Pascasarjana Unisma menjelaskan bahwa tantangan utama TKA saat ini adalah soal-soal yang menuntut kemampuan penalaran tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills atau HOTS). Sedangkan kurikulum konvensional seringkali menekankan pada penyelesaian prosedur. Namun, untuk TKA, siswa perlu tahu mengapa rumus tersebut bekerja dan bagaimana mengaplikasikannya dalam konteks masalah yang baru.
“Di sinilah peran teori Konstruktivisme masuk,” ucap Eka.
Dalam sesi pendampingan yang berlangsung selama empat pekan, siswa didorong untuk aktif berkolaborasi dalam kelompok kecil. Mereka diberi masalah TKA terbuka (open-ended problems) yang memaksa mereka untuk berdiskusi. Lantas mengeksplorasi konsep dasar, dan mencapai solusi melalui proses penemuan mandiri.
Metode ini menghilangkan peran guru sebagai satu-satunya sumber ilmu, dan menggantinya dengan peran fasilitator. Kemudian memandu siswa membangun jembatan pemahaman mereka sendiri.
Dokumentasi Kegiatan Pendampingan TKA di Madrasah
Dampak positif program ini tercermin dari hasil evaluasi yang dilakukan melalui uji coba awal (pre-test) dan akhir (post-test). Data menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor TKA siswa hingga mencapai 80%. Peningkatan ini tidak hanya terukur secara kuantitatif, tetapi juga kualitatif.
Dini Fatmawati, salah satu peserta, mengungkapkan perubahan drastis dalam cara belajarnya. Dulu ia takut melihat soal yang panjang-panjang. Sekarang, ia jadi tahu cara memecah masalahnya, bukan cuma panik mencari rumus mana yang harus dipakai.
“Belajarnya jadi lebih logis,” kata Dini.
Kepala Madrasah MAN Sampang Mukhlishotun, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, program ini merupakan jawaban atas kebutuhan para siswa untuk menghadapi seleksi masuk PTN yang semakin kompetitif. Ia menilai pendekatan konstruktivisme memberikan bekal keterampilan berpikir yang akan bermanfaat jauh melampaui tes akademik.
Keberhasilan program ini diharapkan menjadi model bagi madrasah lain dalam mempersiapkan siswanya. Terutama menghadapi ujian standar nasional maupun seleksi masuk perguruan tinggi.
Tim pengabdian masyarakat mahasiswa UNISMA ini berencana untuk merumuskan modul pembelajaran TKA berbasis konstruktivisme. Dengan harapan agar metodologi ini dapat diakses lebih luas.
Program ini membuktikan bahwa pengajaran matematika yang berpusat pada siswa dan menekankan pada penalaran kritis. Merupakan kunci untuk melahirkan calon mahasiswa yang tidak hanya lulus tes, tetapi juga siap menjadi pembelajar mandiri di jenjang perguruan tinggi.
