Lewat Learning Community, Mahasiswa UNISMA Bumikan Matematika di Kalangan Santri

Lewat Learning Community, Mahasiswa UNISMA Bumikan Matematika di Kalangan Santri

Indonesiandaily.com – Mahasiswa Universitas Islam Malang (UNISMA) berupaya membumikan Matematika di kalangan santri. Yakni dengan melakukan pendampingan pembelajaran matematika berbasis Learning Community.

Adalah Nurul Izzah, mahasiswa UNISMA yang melakukan pendampingan pembelajaran Matematika tersebut. Ia memberikan pendampingan kepada santri putri tingkat SMP dan SMA yang nyantri di Pondok Pesantren Tahfidul Qur’an (PPTQ) Al Ma’ruf Mojo Kediri.

“Di pondok ini, pengasuh dan pengurus santri putri turut mendampingi. Jadi suasana pendampingan tampak hangat dan penuh dukungan,” ungkap Nurul Izzah.

Ia menjelaskan, konsep learning community sendiri merupakan cara belajar yang menekankan kolaborasi, diskusi. Serta keberanian untuk berbagi gagasan/ide antar anggota.

Melalui Komunitas belajar matematika ini, santri PPTQ Al Ma’ruf dapat saling bertukar informasi, mengajukan pertanyaan tanpa malu dan sungkan.

“Juga berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah matematika,” ucap Nurul.

Pendampingan ini dimulai dengan koordinasi bersama pengasuh dan pengurus pondok mengenai jadwal dan rancangan program. Setelah itu, dibentuk komunitas belajar matematika lengkap dengan kepengurusan.

Para anggota komunitas kemudian dibagi dalam kelompok kecil berisi 4-5 Santri. Model ini dipilih agar diskusi lebih fokus, kolaboratif dan mudah dikelola. Dalam kelompok kecil itulah para santri berdiskusi dan belajar matematika dimulai dari konsep dasar.

“Termasuk berlatih menyelesaikan soal sederhana. Hingga soal kontekstual yang terintegrasi dengan ilmu agama,” tuturnya.

Tujuan kegiatan ini tidak sekedar meningkatkan kemampuan matematis saja. Tapi juga menumbuhkan ketertarikan santri terhadap matematika serta motivasi untuk mempelajarinya.

“Matematika adalah ilmu Universal yang dibutuhkan di berbagai bidang, termasuk agama. Matematika bukanlah sesuatu yang sulit dan menakutkan, asalkan ada kemuan serta keistiqomahan,” ujar mahasiswa sekaligus guru di MAN 2 Kota Kediri tersebut.

Dirinya juga menambahkan bahwa agama dan sains tidak semestinya dipisahkan. Keduanya justru saling menguatkan. Nurul ingin menunjukkan bahwa matematika mempunyai sisi religuitas dan mempermudah dalam menjalankan ajaran agama.

Bagi para santri, metode learning community ini terasa sangat membantu. Menurut Livia, salah seorang santri putri yang juga peserta dalam kegiatan tersebut, ia merasa bebas bertanya pada teman tanpa harus malu.

Hal senada juga disampaikan oleh anggota learning community yang lain, Nanda merasakan adanya interaksi dan tukar pikiran yang lebih aktif dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Ia merasa banyak manfaat yang didapat.

“Saya berharap guru-guru disini juga bisa menerapkan metode sejenis,” kata Nanda.

Pengasuh PPTQ Al Ma’ruf, Ahmad Fauzan Al Hafidz turut memberikan apresiasi. Ia menilai mendapat banyak manfaat dari kegitan ini. Ia merasa budaya belajar matematika mulai tumbuh di lingkungan pondoknya. Ia berharap kegiatan ini bisa berkelanjutan dan peminat  dalam komunitas belajar ini semakin bertambah.

“Mengingat matematika sangat diperlukan untuk perhitungan dalam banyak bidang ilmu agama seperti mawaris, mualamah dan hisab,” ujarnya.

Nurul Izzah juga menambahkan bahwa pendekatan komunitas ini sebenarnya dapat diterapkan pada berbagai mata pelajaran. Intinya ialah menumbuhkan motivasi belajar santri melalui kelompok kecil yang suportif dan kolaboratif.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *