Dosen UMM:  Kecemasan Masa Depan Hingga Kelelahan Mental Ternyata ini Solusinya

Dosen UMM:  Kecemasan Masa Depan Hingga Kelelahan Mental Ternyata ini Solusinya

Indonesiandaily.com – Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengungkapkan kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental. Ternyata ini solusi jitu dari berbagai permasalahan kehidupan. Yakni menegakan Sholat.

Hal tersebut disampaikan oleh dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM I’anatut Thoifah MPdI. Bahwa tekanan akademik, kecemasan akan masa depan, hingga kelelahan mental. Keluhan tersebut sering kali tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi akademik atau materiil.

“Maka solusi jitunya adalah dengan menegakan Sholat,” ungkap I’natul.

Menurutnya, shalat sebagai sistem pengelolaan waktu yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa. Lima waktu shalat, katanya, membentuk pola hidup yang teratur dan berbasis nilai.

“Shalat adalah siklus manajemen waktu paling lengkap: plan–do–check–reflect–reset,” ujarnya.

Dalam konteks mahasiswa yang sering terjebak pada kesibukan tanpa henti, shalat justru menjadi penyeimbang. Bukan mengurangi produktivitas, tetapi membantu menjaga fokus dan ketenangan.

Ia menambahkan, Subuh mengajarkan perencanaan dan niat hidup. Dzuhur menjadi jeda untuk evaluasi aktivitas. Ashar menumbuhkan kesadaran bahwa waktu terbatas. Maghrib menjadi ruang refleksi.

Serta Isya adalah saat penyerahan diri sekaligus pemulihan batin. Pola ini, menurutnya, membuat hidup menjadi lebih terarah meskipun ditengah kesibukan yang padat.

Dosen FAI ini sengaja mengulas tentang pentingnya sholat, hal ini terkait dengan peringatan momen sakral Isra’ Mi’raj yang jatuh pada Jum’at (16/01/’26). I’ana menganggap bahwa nilai Isra Mi’raj dan shalat memiliki peran strategis dalam membentuk karakter.

Dalam pandangannya, Isra Mi’raj memberi orientasi hidup, bahwa kuliah bukan sekadar mengejar IPK, tetapi bagian dari perjalanan menuju tujuan yang lebih bermakna. Sementara shalat menjadi ruang jeda di tengah tekanan akademik. Menurutnya, prestasi diraih melalui usaha dan kesungguhan, bukan jalan pintas.

“Tapi nilai spiritual lah yang menjadi penguat agar mahasiswa tetap jujur dan bertanggung jawab,” katanya.

Terakhir, Ia berpesan bahwa sholat harus menjadi kompas kesadaran hidup. Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif dan penuh tekanan, hal itu menjadi pengingat penting.

Bahwa shalat, sebagaimana diajarkan melalui Isra Mi’raj, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sistem yang membantu manusia mengelola waktu, menjaga integritas, dan tetap berjalan pada arah yang benar.

“Shalat bukan sekadar kewajiban ritual dan berhenti di atas sajadah. Tetapi menjadi kompas kesadaran yang menuntun sikap dalam nilai yang penuh berkah,” pungkasnya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *