Indonesiandaily.com – Dosen perempuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang terjun di wilayah bencana, mengungkapkan peran vital wanita.
Adalah dosen Fakultas Teknik UMM bernama Ir Iis Siti Aisyah MT PhD yang terjun langsung di wilayah banjir bandang Sumatera. Bencana ini tak hanya meninggalkan kerusakan secara fisik, namun juga luka sosial yang mendalam. Di tengah situasi yang terus berubah dan kabar kehilangan yang datang setiap jamnya, peran perempuan dalam respons bencana semakin terlihat vitalnya.
“Naluri keibuan saya yang membuat tergerak terjun langsung membantu korban bencana,“ ungkap Iis.
Dosen UMM ini keinginan kuat untuk melakukan apa pun yang dapat meringankan beban masyarakat terdampak.
Keterlibatannya ini merupakan bagian dari kolaborasi resmi UMM dan Universitas Brawijaya (UB) dalam tanggap darurat yang berangkat pada 8 Desember lalu.
Tim relawan dua kampus ini fokus membantu di Kabupaten Agam, terutama di Malalak, Palembayan, dan Maninjau. Dari UMM, ada 3 dosen dan 16 mahasiswa Maharesigana yang diterjunkan.
Iis sendiri dipercaya menjadi Koordinator Dapur Umum, posisi yang membutuhkan ketelitian, manajemen logistik, serta kepekaan membaca kondisi sosial penyintas.
Di dapur umum, relawan perempuan bergerak cepat menyiapkan makanan dan mengatur alur kerja agar semuanya tetap tertib. Kepekaan mereka membuat penyintas merasa lebih diperhatikan, bahkan hanya lewat sapaan singkat saat mengambil makanan.
Kehadiran mereka membuat dapur umum terasa lebih teratur dan hangat.“Kadang orang lupa, perempuan itu bukan hanya bantu masak. Tapi kami juga membaca kebutuhan, menenangkan yang gelisah, dan menjaga semuanya tetap berjalan. Di situ letak kekuatan perempuan,” ungkapnya.
Iis menegaskan bahwa kontribusi perempuan bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi merupakan bagian vital dari kerja kemanusiaan. Ia menjelaskan bahwa perempuan memiliki keunggulan seperti adaptif, teliti, empatik, serta kemampuan membangun bonding yang kuat. Juga semua sifat yang berpengaruh besar terhadap efektivitas tim di lapangan.
Sensitivitas perempuan, menurutnya, juga menjadi kekuatan yang dapat mempercepat proses pemulihan sosial. Terutama bagi masyarakat yang sedang berada dalam kondisi trauma.
“Kadang masyarakat yang mengalami trauma lebih mudah membuka diri kepada perempuan. Hal ini membuat komunikasi serta penanganan psikososial menjadi lebih optimal,” katanya.
Dosen teknik itu juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan di daerah rawan bencana. Menurutnya, masyarakat perlu membangun budaya kesiapsiagaan. Sementara pemerintah harus memperkuat sistem respons awal ketika tanda-tanda bencana muncul.
“Kita tidak boleh menunggu sampai terlambat. Begitu ada indikasi bahaya, harus ada langkah cepat, terukur, dan jelas,” ucapnya.
Ia berharap agar sistem peringatan dini di Indonesia dapat diperbaiki dan diperkuat. Baginya, teknologi peringatan dini yang lebih akurat akan memberi kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri.
“Saya hanya berharap tidak ada lagi korban yang jatuh karena telat mendapat informasi. Empati, dan kemampuan bergerak cepat adalah kunci agar dapat bertahan menghadapi bencana serupa di masa depan,” pungkasnya.
