Indonesiandaily.com – Prodi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar internasional yang menghadirkan narasumber dari Taiwan dan Vietnam. Pertemuan ilmiah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas keilmuan mahasiswa melalui transfer Knowledge.
Hal tersebut seperti yang disampaikan Ketua Prodi Profesi Ners UMM, Ns Anis Ika Nur Rohmah SKep MKep SpKep MB. Bahwa seminar internasional ini tak lain untuk meningkatkan kapasitas keilmuan mahasiswa melalui tansfer Knowledge. Kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa, namun juga melibatkan tenaga kesehatan dari beberapa rumah sakit mitra.
“International Guest Lecture ini rutin diadakan setiap tahun. Tujuannya pertama untuk meningkatkan kapasitas mahasiswa yang juga mengundang relasi dari beberapa rumah sakit untuk melakukan transfer knowledge,” ungkap Anis, Selasa (06/01/’26).
Ia menambahkan, materi yang disampaikan berfokus pada perkembangan terbaru dalam evidence based nursing. Khususnya terkait perawatan pasien diabetes melitus.
Dengan begitu, baik mahasiswa maupun tenaga kesehatan dapat terus mengikuti pembaruan ilmu.
“Isinya nanti membahas penelitian-penelitian terbaru dan evidence based nursing terbaru. Sehingga teman-teman di rumah sakit juga bisa ikut update. Jadi kita saling berbagi pengetahuan,” ujarnya.
Kegiatan ini diikuti sekitar 250 peserta yang berasal dari mahasiswa S1 Keperawatan, mahasiswa Profesi Ners, serta perwakilan dari sejumlah rumah sakit mitra. Seperti RSSA, RS Wava Husada, RSI Aisyiyah, RS UMM, dan RSUD Kepanjen.
Untuk pemateri, UMM menghadirkan narasumber dari berbagai negara, di antaranya Vietnam, Taiwan, dan Indonesia.
Menurut Anis, hal ini merupakan bentuk implementasi dari kerja sama internasional yang telah dijalin UMM.
“Ini juga bagian dari implementasi MoU kami. Di dalam MoU itu ada pelaksanaan penelitian, pengabdian masyarakat, dan sharing knowledge seperti ini,” katanya.
Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mendapatkan gambaran nyata tentang penerapan perawatan pasien diabetes di rumah sakit, baik di dalam maupun luar negeri.
“Mahasiswa jadi tidak hanya tahu praktik di Indonesia, tapi juga mendapat gambaran bagaimana implementasi perawatan pasien diabetes di luar negeri,” tutupnya.
