Indonesiandaily.com – Universitas Negeri Malang (UM) meresmikan ruang belajar Du Xiu Shu Fang Reading Center. Yakni pusat bahasa Mandarin yang bertujuan untuk memperluas literasi dan kolaborasi budaya. Khususnya budaya bangsa China dan Indonesia.
Menurut Direktur Kantor Urusan Internasional UM, Sari Karmina SPd MPd PhD bahwa Pusat Bahasa Mandarin di UM sebetulnya telah beroperasi sejak 2011. Dimana hasil kerjasama dengan Guangxi Normal University (GNU). GNU sendiri memiliki Guangxi Normal University Press, yang menaungi toko buku Du Xiou Shu Fang.
“UM dipilih menjadi lokasi ketiga di luar Tiongkok untuk kehadiran Du Xiu Shu Fang. IniĀ menunjukan komitmen bersama untuk memperluas literasi bahasa Mandarin ke mancanegara,” ungkap Sari Karmina, Selasa (30/12).
Menurut Sari Karmina, inisiatif ini tidak sekadar meningkatkan kemampuan bahasa, melainkan juga memperluas peluang ekonomi, budaya, hingga potential kolaborasi politik dan industri. Rencana kedepannya mencakup undangan Konjen China dan alumni berwirausaha untuk terlibat dalam agenda pusat pembelajaran dan budaya ini. Sehingga pusat tidak hanya menjadi ruang baca, tetapi juga kota bagi pertukaran ide dan peluang bisnis.
Gambaran operasional pusat ini akan mencakup bantuan fasilitas dari GNU Press, termasuk sumbangan buku sebanyak 800 judul (sekitar 1.500 eksemplar), senilai ratusan juta rupiah. Buku-buku yang disediakan beragam, mulai dari materi pendidikan hingga karya sastra, semua dalam bahasa Mandarin dan dibuka untuk umum.
Agenda bulanan, direncanakan bisa dua kali sebulan akan dipenuhi dengan kegiatan budaya, sesi membaca, kuliah. Serta program literasi untuk berbagai segmen, mulai anak-anak, dewasa, hingga mahasiswa.
Pusat ruang baca ini dirancang untuk umum, menjadikan perpustakaan bahasa Mandarin sebagai sumber belajar yang dinamis bagi komunitas UM maupun khalayak luas.
Pengelolaan program-program bahasa Mandarin akan dijalankan langsung oleh tim dari Guangxi Normal University. Sementara UM berperan dalam mengintegrasikan program-program tersebut dengan kebutuhan akademik dan budaya kampus.
Kedepannya, UM berharap kolaborasi ini tidak hanya menguatkan literasi bahasa Mandarin, tetapi juga memperluas jangkauan budaya Tiongkok ke berbagai negara. Termasuk yang telah menjadi fokus seperti Jepang, Vietnam, dan Thailand, melalui jaringan Dushu Sufang dan Confucius Institute.
Dengan langkah ini, UM menegaskan komitmen untuk membangun jembatan budaya yang lebih luas dan berkelanjutan. Yakni melalui dukungan perpustakaan terbuka, program beasiswa, serta acara budaya yang rutin digelar.
