Indonesiandaily.com – Berkurangnya jumlah pengrajin mengancam keberlanjutan Topeng Cukli, salah satu warisan seni tradisional masyarakat Sasak di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bukan hanya keterampilan membuat topeng yang berisiko hilang, tetapi juga filosofi, motif, dan pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melihat kondisi tersebut, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) melakukan penelitian melalui Program Dosen Berkarya (Dokar) untuk mendokumentasikan kekayaan budaya di balik Topeng Cukli.
Penelitian yang dipimpin A. Syarifuddin Rohman, M.Pd., dosen Program Studi Seni Rupa Murni FIB UB, berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Oktober 2026 di Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat.
Tim menelusuri bentuk, warna, ragam motif, dan makna simbolis topeng tersebut. Upaya ini diarahkan untuk merekam pengetahuan yang selama ini melekat pada proses pembuatan karya tradisional itu.
Pengrajin Berkurang, Tradisi Terancam Kehilangan Pewaris
Labuapi menjadi lokasi penelitian karena masih dikenal sebagai salah satu kawasan pengrajin Topeng Cukli. Namun, keberadaan tradisi tersebut menghadapi tantangan ketika jumlah orang yang menekuni kerajinan ini semakin terbatas.
Zakky, salah seorang pengrajin Topeng Cukli di Labuapi, menilai pelestarian kesenian tradisional membutuhkan dukungan lebih luas, tidak hanya dari kalangan pengrajin.
“Butuh lebih banyak support dari masyarakat sekitar, akademisi, dan instansi pemerintah untuk tetap terus bisa menjaga kesenian tradisional ini,” ujar Zakky.
Ia berharap Topeng Cukli kembali memperoleh perhatian seperti pada masa kejayaannya pada 1990-an.
Berkurangnya pengrajin menjadi persoalan penting karena pengetahuan membuat topeng tidak hanya tersimpan dalam bentuk benda. Keterampilan mengolah bahan, menentukan warna, menyusun ornamen, hingga memahami filosofi motif merupakan bagian dari pengetahuan yang perlu diwariskan melalui praktik dan pengalaman.
Ketika proses pewarisan terhenti, dokumentasi menjadi salah satu cara untuk menjaga agar pengetahuan tersebut tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Merekam Filosofi di Balik Topeng Cukli
Penelitian FIB UB tidak berhenti pada pengamatan terhadap keunikan visual Topeng Cukli. Tim juga mengkaji hubungan antara bentuk, warna, dan motif dengan nilai serta identitas budaya masyarakat Sasak.
Topeng Cukli memiliki karakter berupa warna-warna cerah dan ornamen yang kaya. Di balik unsur tersebut, terdapat pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat setempat.
Dokumentasi akademik diharapkan dapat membantu masyarakat memahami topeng bukan sekadar sebagai produk kerajinan atau benda dekoratif, melainkan sebagai ekspresi budaya yang memiliki konteks sejarah dan makna tersendiri.
Pendekatan ini juga membuka peluang pemanfaatan Topeng Cukli sebagai sumber pembelajaran bagi mahasiswa, peneliti, dan masyarakat. Dengan catatan yang lebih sistematis, pengetahuan mengenai motif dan filosofi topeng dapat dipelajari tanpa terlepas dari tradisi yang melahirkannya.
Kolaborasi untuk Menjaga Warisan Budaya
Penelitian ini melibatkan Dinas Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat sebagai bagian dari sinergi perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Kolaborasi tersebut berkaitan dengan kerja sama yang telah terbangun antara Universitas Brawijaya dan Pemerintah Provinsi NTB.
Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting karena keberlanjutan Topeng Cukli tidak bisa hanya bergantung pada pengrajin. Dukungan akademisi dan pemerintah dibutuhkan untuk memperkuat dokumentasi, memperluas pengenalan budaya, serta mendorong perhatian terhadap keberlangsungan tradisi.
Syarifuddin berharap penelitian tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengenal dan menjaga budaya lokal.
“Harapan utamanya sederhana tetapi mendasar: Topeng Cukli dapat terus dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.
Bagi masyarakat Sasak, menjaga Topeng Cukli berarti mempertahankan lebih dari sekadar bentuk karya seni. Ada keterampilan, cerita, filosofi, dan identitas budaya yang ikut dipertaruhkan ketika jumlah pewaris tradisi semakin sedikit.
Melalui Program Dokar, FIB UB berupaya merekam pengetahuan tersebut sebelum semakin sulit ditemukan. Namun, dokumentasi hanyalah salah satu langkah. Keberlanjutan Topeng Cukli tetap membutuhkan pengrajin yang meneruskan keterampilan, generasi muda yang tertarik mempelajarinya, serta dukungan masyarakat agar warisan budaya ini tetap hidup.



