Dari Rumah untuk Bumi, Dosen UMM Gagas Eco-Parenting Berbasis Kearifan Lokal Nusantara

Dari Rumah untuk Bumi, Dosen UMM Gagas Eco-Parenting Berbasis Kearifan Lokal Nusantara

Indonesiandaily.com – Menjaga bumi ternyata bisa dimulai dari hal-hal sederhana di rumah. Dari cara orang tua mengajarkan anak menggunakan air, merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan, hingga mengenalkan kembali tradisi leluhur yang selama ini akrab dengan alam.

Gagasan tersebut mendorong dua dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan eco-parenting berbasis kearifan lokal Nusantara.

Program ini digagas Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Wakil Rektor IV Bidang Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, bersama Muhammad Fath Mashuri, S.Psi., M.A., dosen Psikologi UMM.

Mereka melihat keluarga memiliki posisi penting dalam membentuk cara anak memandang lingkungan. Sebab, kebiasaan yang diperkenalkan sejak kecil berpotensi menjadi perilaku yang melekat hingga dewasa.

Anak-anak yang Akan Menghadapi Masa Depan Bumi 

Menurut Salis, pembicaraan tentang pengasuhan selama ini lebih sering diarahkan pada persoalan gawai, pendidikan, karier, dan kesehatan anak.

Sementara itu, persoalan perubahan iklim dan keberlanjutan lingkungan belum banyak ditempatkan sebagai bagian dari pengasuhan.

“Parenting juga penting untuk mengajarkan perubahan iklim dan keberlanjutan. Anak-anak kita yang akan hidup di bumi ini 50 tahun ke depan,” ujar Salis.

Baginya, kesadaran menjaga lingkungan tidak seharusnya baru muncul ketika seseorang dewasa. Rumah justru menjadi ruang pertama untuk mengenalkan bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak terhadap alam.

Karena itu, eco-parenting dirancang bukan sebagai pelajaran yang rumit. Nilai lingkungan akan dikenalkan melalui kebiasaan yang dekat dengan keseharian anak dan orang tua.

Belajar Merawat Alam dari Leluhur

Yang membuat konsep ini berbeda adalah sumber nilai yang digunakan. Salis dan Fath tidak hanya mengambil referensi pengasuhan lingkungan dari konsep modern, tetapi kembali menggali kekayaan budaya Nusantara.

Kearifan dari Jawa Timur dipadukan dengan nilai budaya Bugis dan Makassar dari Sulawesi Selatan. Fath sendiri berasal dari Sulawesi Selatan sehingga kolaborasi lintas budaya tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan program.

Salis mencontohkan tradisi bersih desa serta kebiasaan masyarakat menjaga sumber air sebagai bentuk hubungan manusia dengan alam.

Dalam kehidupan pertanian, terdapat pula praktik memanfaatkan bahan-bahan alami untuk membantu menjaga kesuburan lahan.

“Kesadarannya adalah bagaimana kita kembali ke alam dan menghindari bahan kimiawi,” jelasnya.

Nilai-nilai tersebut kemudian akan dikemas menjadi materi yang lebih mudah diterapkan keluarga.

Harapannya, anak tidak sekadar mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi memahami alasan di balik kebiasaan tersebut melalui pengalaman yang mereka temui setiap hari.

Psikologi untuk Menjawab Krisis Lingkungan 

Eco-parenting juga memperlihatkan bahwa psikologi tidak hanya berbicara tentang persoalan individu.

Melalui pendekatan psikologi sosial, pengasuhan dapat menjadi pintu masuk untuk membentuk perilaku masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan.

Ketika kebiasaan menjaga alam dibangun dari keluarga, perubahan diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan. Anak dan orang tua didorong untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut sekaligus berkaitan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama upaya membangun pola hidup yang lebih berkelanjutan di tengah ancaman perubahan iklim.

Berawal dari Gagal, Berujung Hibah Internasional 

Gagasan eco-parenting berbasis kearifan lokal ini akhirnya mendapat dukungan melalui hibah internasional dari pemerintah Britania Raya.

Hibah tersebut diberikan melalui seleksi kompetitif bagi alumni perguruan tinggi di Inggris. Salis, yang merupakan alumnus program doktoral Newcastle University, Inggris, mengaku perjalanan untuk mendapatkan hibah itu tidak mudah.

Setelah beberapa kali gagal, proposal yang diajukan akhirnya berhasil terpilih.

“Saya sudah pernah mencoba dua tahun lalu, gagal tiga kali, dan baru tahun ini akhirnya masuk,” ungkap Salis.

Program pengabdian tersebut dijadwalkan mulai diimplementasikan pada November 2026. Setelah penandatanganan kontrak pada Oktober, seluruh rangkaian edukasi eco-parenting ditargetkan selesai pada Juni 2027.

Bagi kedua dosen tersebut, menjaga bumi tidak selalu harus dimulai dengan gerakan besar. Bisa jadi, perubahan justru bermula dari percakapan sederhana antara orang tua dan anak di rumah—tentang air yang tidak boleh dibuang percuma, tanaman yang harus dirawat, dan alam yang kelak menjadi tempat anak-anak menjalani kehidupannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *