Indonesiandaily.com – Anggota Komisi B DPRD Kota Malang Dr. H. Indra Permana, SE, MM mendorong pembentukan koperasi khusus ekonomi kreatif sebagai langkah strategis untuk mengubah kreativitas masyarakat menjadi kekuatan ekonomi.
Menurut Indra, Kota Malang sebenarnya telah memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Mulai dari Malang Creative Center (MCC), perguruan tinggi, komunitas kreatif, UMKM, hingga status Malang sebagai kota kreatif UNESCO.
Namun, potensi tersebut harus didorong lebih jauh agar tidak berhenti pada aktivitas dan gelaran kreatif.
Indra menilai, ekosistem ekonomi kreatif harus mampu menghasilkan omzet, memperbesar skala usaha, menciptakan lapangan kerja, serta melahirkan aset ekonomi baru bagi masyarakat.
“Ekonomi kreatif jangan berhenti di event. Kita harus memastikan ada omzet yang tumbuh, usaha yang naik kelas dan lapangan kerja yang tercipta,” ujar Kaji Indra.
Indra Tawarkan Konsep 5C Ekonomi Kreatif
Untuk memperkuat gagasan tersebut, Indra menawarkan konsep 5C Ekonomi Kreatif Malang.
Konsep pertama adalah Creative Financing. Koperasi harus mampu membuka akses pembiayaan yang sesuai dengan karakter bisnis kreatif.
Kedua, Creative Marketplace, melalui pembangunan kanal pemasaran bersama untuk memperluas pasar produk dan jasa kreatif asal Malang.
Ketiga, Creative Business Matching. Konsep ini diarahkan untuk mempertemukan pelaku kreatif dengan perbankan, investor, industri dan pasar.
Keempat, Creative IP to Business. Indra mendorong karya kreatif seperti desain, animasi, musik, konten dan produk kreatif tidak sekadar menjadi karya, tetapi dikembangkan menjadi hak kekayaan intelektual sekaligus aset bisnis.
Kelima, Creative Job Creation. Setiap program ekonomi kreatif harus memiliki target nyata dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan omzet.
Indra menegaskan, koperasi ekonomi kreatif yang dirancang tidak boleh hanya berfungsi sebagai lembaga pembiayaan.
Koperasi harus menjadi business ecosystem yang menghubungkan pelaku kreatif dengan berbagai sumber daya ekonomi.
Mulai dari modal, pemasaran, teknologi, perguruan tinggi, perbankan, investor, industri hingga pasar harus terhubung dalam ekosistem tersebut.
“Konsepnya sederhana: kreativitas menjadi karya, karya menjadi aset, aset menjadi bisnis, dan bisnis menciptakan kesejahteraan,” tegasnya.
Indra Ingin MCC Naik Kelas
Gagasan Indra tidak hanya menyasar pembentukan koperasi ekonomi kreatif.
Ia juga mendorong MCC dikembangkan menjadi Creative Economic Hub.
Menurutnya, MCC harus berkembang dari sekadar ruang aktivitas menjadi pusat konektivitas ekonomi kreatif Kota Malang.
Di tempat tersebut, kreator, koperasi, kampus, pemerintah, perbankan, investor, industri dan pasar dapat dipertemukan untuk menciptakan transaksi dan kolaborasi bisnis.
“Kalau MCC hanya ramai ketika ada event, itu bagus. Tetapi akan jauh lebih hebat kalau dari MCC lahir brand baru, bisnis baru, kontrak bisnis baru dan lapangan kerja baru,” katanya.
Bagi Indra, ukuran keberhasilan ekonomi kreatif tidak cukup dilihat dari banyaknya kegiatan yang digelar.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa besar kegiatan tersebut mampu meningkatkan omzet pelaku usaha, memperluas pasar dan menciptakan pekerjaan.
Indra: Kreator Harus Naik Kelas Jadi Pelaku Ekonomi
Indra juga menilai cara pandang terhadap pelaku ekonomi kreatif harus diubah.
Kreator tidak boleh hanya diposisikan sebagai peserta event atau penerima program.
Mereka harus ditempatkan sebagai pelaku ekonomi sekaligus pencipta lapangan kerja.
Karena itu, kebijakan ekonomi kreatif Kota Malang harus diarahkan pada tiga sasaran. Yakni memperbesar pasar, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan kepemilikan ekonomi bagi masyarakat.
Indra secara khusus menyoroti potensi anak muda Malang yang semakin banyak terjun ke dunia digital dan industri kreatif.
Ia berharap kreativitas anak muda tidak berhenti pada jumlah followers di media sosial.
Lebih dari itu, mereka harus mampu memiliki perusahaan, membangun brand, mengembangkan intellectual property, serta menciptakan sumber pendapatan yang kuat.
“Kita ingin anak muda Malang tidak hanya menjadi content creator yang memiliki banyak followers, tetapi juga memiliki perusahaan, brand, intellectual property dan penghasilan yang kuat,” ujarnya.
Indra Ingin Malang Jadi Pabrik Ide dan Bisnis
Indra melihat Kota Malang memiliki kombinasi kekuatan yang sulit ditemukan di daerah lain.
Ada perguruan tinggi, talenta muda, budaya, komunitas, teknologi dan MCC yang dapat dikoneksikan menjadi sebuah ekosistem ekonomi kreatif.
Jika seluruh kekuatan tersebut terintegrasi, Malang tidak hanya menjadi kota pendidikan dan wisata.
Malang juga dapat berkembang menjadi pusat lahirnya karya, brand dan bisnis kreatif yang dipasarkan ke tingkat nasional hingga internasional.
“Kita punya kampus, talenta muda, budaya, komunitas, teknologi dan MCC. Kalau semua terkoneksi, Malang tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk belajar dan berwisata, tetapi menjadi tempat lahirnya karya dan bisnis yang dipasarkan ke Indonesia bahkan dunia,” ungkapnya.
Bagi Indra, inilah arah ekonomi kreatif yang harus dibangun Kota Malang.
Bukan sekadar menghasilkan event, melainkan menciptakan rantai ekonomi dari ide hingga kesejahteraan.
“Inilah ekonomi kreatif yang kita inginkan: dari ide menjadi karya, dari karya menjadi aset, dari aset menjadi bisnis, dan dari bisnis menjadi kesejahteraan masyarakat,” pungkas Indra.
