Indonesiandaily.com – Diabetes melitus tipe 2 tidak hanya berkaitan dengan persoalan kadar gula darah. Kualitas tidur dan kemampuan pasien menjalankan pengelolaan penyakit secara konsisten turut menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Hal tersebut ditemukan dalam penelitian Anggraini Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., MNS., PhD., dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian dilakukan di Kota Malang pada Januari hingga Mei 2026.
Penelitian tersebut melibatkan sejumlah puskesmas di Kota Malang sebagai lokasi pengambilan sampel darah dan perekrutan pasien. Sebanyak 106 warga dengan diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol menjadi peserta penelitian.
Dari penelitian itu, Anggraini menemukan bahwa pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh. Pasalnya, pasien tidak hanya menghadapi persoalan kadar gula darah, tetapi juga gangguan tidur dan tantangan mempertahankan perilaku sehat.
“Pada penderita diabetes, kita tidak hanya melihat apakah gula darahnya terkontrol. Kemampuan melakukan self-management dan kualitas tidur juga perlu diperhatikan,” jelas Anggraini.
Nokturia Ganggu Kualitas Tidur
Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan kualitas tidur adalah nokturia atau kondisi ketika seseorang harus berulang kali buang air kecil pada malam hari.
Kadar gula darah yang tinggi dapat membuat penderita lebih sering buang air kecil. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasien terbangun berkali-kali sehingga waktu dan kualitas istirahat menjadi terganggu.
“Ketika kadar gula darah tinggi, penderita bisa mengalami nokturia atau sering buang air kecil pada malam hari. Akibatnya, mereka terbangun berkali-kali dan kualitas tidurnya ikut terganggu,” terangnya.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan penelitian disertasi Anggraini bertajuk Effect of Hybrid-theory Based Individual and Family Self-Management Program on Glycemic Hemoglobin and Sleep Quality among Adults with Type 2 Diabetes Mellitus in Indonesia.
Program tersebut memadukan pengelolaan diabetes secara mandiri, edukasi kualitas tidur, serta keterlibatan keluarga dalam mendampingi pasien.
“Saya tidak bisa hanya berfokus pada individu, tetapi juga harus melibatkan keluarga dalam program yang saya buat,” jelasnya.
Libatkan Keluarga dalam Pengelolaan Diabetes
Penelitian berlangsung selama empat bulan dengan pendekatan hybrid. Metode tersebut memadukan kegiatan tatap muka dan daring.
Peserta dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Peserta pada kelompok intervensi mendapatkan edukasi mengenai diabetes, pengelolaan kesehatan, hingga kualitas tidur.
Materi self-management mencakup aktivitas fisik, pola makan sehat, pemantauan gula darah, kepatuhan mengonsumsi obat, serta perawatan kaki.
Pendampingan kemudian dilanjutkan melalui kunjungan rumah dan grup WhatsApp. Dalam pendampingan tersebut, anggota keluarga turut dilibatkan untuk membantu pasien mempertahankan kebiasaan sehat.
“Keluarga dilibatkan agar pasien tidak menjalankan pengelolaan diabetes sendirian. Dukungan tersebut penting untuk membantu mempertahankan kebiasaan sehat,” katanya.
Untuk mengetahui kualitas tidur peserta, penelitian menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan perangkat wearable berupa smartwatch.
Perangkat tersebut digunakan untuk memantau durasi tidur sekaligus waktu peserta terbangun sepanjang malam. Dengan demikian, perubahan kualitas tidur dapat diamati secara lebih objektif.
HbA1c Menurun, Kualitas Tidur Meningkat
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan setelah intervensi dilakukan selama empat bulan. Peserta mengalami penurunan kadar HbA1c sekaligus peningkatan kualitas tidur.
“Setelah intervensi, kami melihat adanya penurunan HbA1c dan peningkatan kualitas tidur. Artinya, pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh,” tuturnya.
Menurut Anggraini, perubahan perilaku pasien tidak cukup hanya dilakukan melalui edukasi satu atau dua kali. Pasien membutuhkan pendampingan berkelanjutan agar kebiasaan sehat dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.
Dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, kata dia, menjadi bagian penting dalam membantu penderita diabetes menjalankan self-management secara konsisten.
Sementara bagi masyarakat yang belum terdiagnosis diabetes, pencegahan dapat dilakukan dengan mengenali dan mengendalikan berbagai faktor risiko.
Beberapa di antaranya obesitas, kurang aktivitas fisik, serta pola makan tinggi gula. Pemeriksaan gula darah secara berkala juga penting untuk membantu mendeteksi gangguan lebih dini.
“Supaya tidak jatuh pada penyakit tersebut, sebaiknya kita juga harus berusaha untuk menghindari faktor risiko yang bisa menyebabkan penyakit tersebut,” tuturnya.
Ia mendorong masyarakat untuk aktif bergerak sedikitnya 150 menit per minggu. Selain itu, pola makan sehat perlu dijaga dengan membatasi makanan cepat saji, minuman bersoda, serta makanan dan minuman tinggi gula.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan diabetes tidak cukup hanya mengejar angka gula darah. Kualitas tidur, perubahan perilaku, serta dukungan keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam upaya meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes.
